Top Social

Belajar Jadi Manusia Kuat | Rara Febtarina

Monday, April 1, 2019
Postingan kali ini adalah hasil kolaborasi dengan Bandung Hijab Blogger yang punya tema My Big Life Decision. Tema ini lumayan bikin mikir dua kali mau posting, karena ini menceritakan keputusan besar yang aku ambil di hidup aku ini.

tulisan ini teruntuk semua orang yang pernah merasa kehilangan begitu besar, tetap kuat!

2009 : Melawan Sedihku

Di tahun ini sebuah titik balik di kehidupan aku, semua yang tadinya indah berubah menjadi awan mendung yang tidak berkesudahan. Tepat sebelum 2 bulan sebelum aku berulang tahun, ibuku yang tercinta berpulang ke sisi Allah SWT. 

Moment itu membawa perubahan sangat besar di hidup aku, menjadi orang yang cuek, dingin, tidak peduli, dan lebih murung, aku bahkan lebih senang  sendiri. Di usia beliaku itu aku kehilangan belahan jiwaku, sesak, setiap hari aku merasa tidak bahagia.

Hari-hari sepanjang hidupku itu dilalui dengan berjuang melawan sedihku, entah tapi pada saat itu sangat sulit.

2011 : Cuma Mau Bikin Ibu & Ayah Bangga

Ini tahun kelulusanku dari SMA, salah satu keputusan besar yang aku ambil dalam hidup adalah bangkit melawan rasa sedih dan membahagiakan ibuku di atas sana. 

Aku berjanji ingin masuk universitas negeri dengan jalur SNMPTN  Undangan atau Tertulis, tujuannya untuk almh ibu dan ayahku bangga, hanya itu.

Akhirnya aku masuk Universitas Pendidikan Indonesia di 2011 dengan jalur SNMPTN Tertulis, Alhamdulillah ayah senang, semoga ibuku pun begitu.

Selama kuliah juga aku beberapa kali mendapatkan beasiswa, Alhamdulillah ini doa ibuku dulu.

2013 : Merasakan Kasih Sayang Allah SWT


Hidup ini seperti roda, ada naik dan turun. Drama-drama kisah cinta selalu ada, tapi bukan perkara besar jika harus mengingat kejadian 2009 lalu, motivasi aku selalu begitu, "tidak ada yang lebih sakit dibandingkan kehilangan ibu".

Di tahun ini aku mantap berhijab, dengan alasan ya tanpa alasan. Ini adalah keputusan besar yang membahagiakan sekaligus ingin membuat ayahku tenang.

Alhamdulillah, hatiku jauh lebih tenang, aku baru bisa menerima kepergian ibu, ya setelah 4 tahun lamanya, maafkan aku yang tidak sempurna yang butuh begitu waktu banyak untuk sesuatu yang berharga, ilmuku masih sedikit dan tidak tau apa-apa kala itu.

Ternyata hijab itu ada ujiannya, Ayahku meninggal di bulan yang sama dengan ibuku di tahun ini.

Bayangkan, baru saja aku bangkit dari kehilangan dan putus asa, aku harus kehilangan belahan jiwa yang lain. Tapi aku sudah menyiapkan mentalku, bahwa suatu hari aku akan kehilangan ayah, mungkin ini waktunya persiapanku diuji.

Waktu ayah dan ibu meninggal aku ada bersama mereka, bedanya waktu ibu meninggal aku sangat histeris, namun waktu ayah meninggal aku malah tak banyak bicara. Di jalan menuju rumah subuh-subuh pun aku bersama ayah di ambulans, aku tidak menangis, karena pundakku harus kuat untuk menjadi sandaran tangisan keluarga yang lain.

Namun, waktu sesampainya di rumah, aku melihat ayah, kata orang aku kelelahan karena aku sampai bersumpah-sumpah melihat ayah disitu, mungkin ayah ingin menyapaku kala itu. 

Ini titik balik luar biasa hebat dalam hidupku, aku menyadari bahwa Allah SWT begitu rindu dan sangat mencintai aku.

Di balik pikiran itu tapi menimbulkan trauma baru, perkuliahanku jadi gak mulus, bayangan cumlaude kandas, susah sekali untuk berkonsentrasi kala itu. Motivasiku hilang, aku kesulitan mengerjakan skripsi, dan aku jadi lebih perasa dan cengeng.

Aku trauma untuk melihat orang tua dengan anaknya, dulu aku trauma melihat seorang ibu dengan anaknya, sekarang aku enggan melihat orang tua dengan anaknya, ada luka yang belum sembuh.

Bukannya aku sombong, tapi aku enggan datang ke wisuda temanku, bukan karena tidak ada waktu tapi aku tidak sanggup melawan traumaku.

2016 : Langkah Baru

Untuk mengalihkan perhatian kala itu, dari tahun 2013-2015 aku punya usaha kecil-kecilan, aku memang senang berjualan dari jaman dulu. Di tambah lagi dengan kegiatan blogging, aku lupa sama kesedihanku kala itu.

Skripsi juga terbengkalai, tidak ada motivasi kala itu.

Di awal 2016, ada teman lama yang datang, menyapa dan bercanda kala itu, teman lama itu aku sebut DJ ya.

DJ ini humoris, bikin aku mau ngerjain skripsi, klasik kan? Tapi beneran haha. Dia gak pernah ngajarin apa-apa tapi prestasinya bikin aku mikir dua kali. Di usianya yang hanya beda satu tahun denganku sudah bisa mencapai begitu banyak pencapaian, lah sedangkan aku masih ngurus skripsi.

Akhirnya aku bertekad menyelesaikan skripsi dan DJ ini ada di ucapan terima kasihku.

Aku lulus di bulan Desember ceritanya bisa mentemen baca di bawah, rada mellow maafkan hihi.

Baca juga Alhamdulillah Aku Cinta Desember :)

Di tahun ini juga aku membuka lembaran baru dengan membangun hubungan dengan DJ yang nyatanya kita LDR-an antara Bandung-Dubai.

Aku nge-break rules aku sendiri tentang LDR-an, aku pernah ada di hubungan LDR beberapa tahun tapi gagal juga, makanya sama DJ juga ajaib sih.

2017 & 2018 : Tahun Banyak Bersyukur


Di tahun ini, tanganku di sematkan cincin, dapat kado ulang tahun super romantis yang paling spesial DJ minta ijin ke waliku untuk ......., tapi balada LDR dimulai, kita beda jam, beda kesibukkan, itu semua butuh adaptasi yang super dan sabar yang terus di uji.

 Tips Kejutan Ulang Tahun Buat Pasangan LDR

Di tahun 2018 ini  kebiasaan Bandung-Dubai yang udah terbiasa kebentuk harus berubah drastis karena harus LDR yang lebih ekstrim antara Bandung-USA. Di sini hubunganku di uji. Menjalin hubungan LDR adalah sebuah keputusan besar dalam hidupku, kata orang ini tidak pasti tapi aku masih bertekad.

2019 : Belajar Jadi Manusia Kuat

Keputusan besar di tahun 2019 ini adalah resign dari pekerjaan demi masa depan untuk menyempurnakan setengah agamaku, kebaikan mental health dan demi menjalani passion menjadi seorang blogger.

Padahal kerjaan aku kemarin lumayan enak, santai dengan materi yang di atas rata-rata, tapi lingkungan yang tidak sehat biki, aku tidak senang menjalaninya. Ya, aku resign.

Tahun ini aku banyak belajar dari semua pengalaman yang aku tulis maupun yang gak aku tulis tentang belajar jadi manusia kuat. Aku tau di depan sana banyak pilihan-pilihan yang harus aku hadapi, banyak keputusan sulit yang akan aku ambil sekaligus banyak hal yang harus aku korbankan.

Mungkin banyak yang mengira bahwa hidup aku ini enak, atau senang, ada juga yang menganggap aku ini jutek, sombong,dan hal negatif lainnya atau moment di hilangkan kepercayaannya, atau khianati juga dihina. Dulu aku kepikiran sama hal itu, sampe bisa bikin aku stress dan down banget.

Dulu sih stress mikirinnya, tapi sekarang aku jadi belajar untuk menerima, sabar, belajar untuk tidak terpengaruhi dan ikhlas. Aku sangat berterima kasih kepada rasa sakit, senang, duka, suka, tangis, tawa, cinta dan kasih sayang yang aku dapat selama aku hidup, semoga orang-orang yang baik sama aku di balas oleh Allah SWT, dan buat orang-orang yang pernah menyakiti, untuk sebuah kehilangan, terima kasih aku belajar banyak semoga Allah SWT bukakan pintu hati. Aku juga pasti punya salah, buat siapapun yang lagi baca tulisan ini jika aku pernah menyakiti, mohon maaf buat diri aku yang gak sempurna ini.

Aku sangat bersyukur sama semua yang aku dapatkan sampai hari ini, aku di kelilingi sama orang-orang yang baik dan penuh cinta. Alhamdulillah.

Xx,

Rara Febtarina
13 comments on "Belajar Jadi Manusia Kuat | Rara Febtarina"
  1. Ya Allah, syg bgt sm Teh Rara.. Aku nangis bacanya. Bahagia selalu, sayangku....

    ReplyDelete
    Replies
    1. sayang juga sama dirimu yang selalu setia menghibur, bahagia selalu dan sehat terus geulisku :*

      Delete
  2. Masya Allah.. Rara hebat.. Aku terharu bacanya, merinding.. Trus pgn peluk :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masya Allah, garis cerita hidupnya harus gini :*

      Delete
  3. Rara geulis kamu kuat pisan..
    Insya allah ibu ayah husnul khotimah, dan rarapun selalu sehat, sukses, dan bahagia ya sayang..

    ReplyDelete
  4. Neng Rara anu geulis dan baik hati. Peluuuuuk. Perjalananmu membuatmu jadi wanita yang spesial. Bangga sama kamu, Ra.

    ReplyDelete
  5. Ujian di depan bakalan lebih besar lagi geulis semoga kita jadi terbiasa dengan ujian dan bukan jadi halangan buat maju. Tetep semangat dan bersyukur. Love you

    ReplyDelete
  6. Siapa yang naro bawang disini...huhuhu raraaaaa #pelukvirtual...Peluk benerannya kapan2 pas ktemu.. Stay strong, geulis

    ReplyDelete
  7. Rara, masha allah setrong banget :'). Ada beberapa fase yang rara alami, juga aku ngalamin, seperti kehilangan salah satu oran tua,dan dulu resign dari korporat lama. tapi percaya deh raa, insha allah nanti juga bakal ada jalan. Tetap semangat yaa, rara *peluk dari jauh*

    ReplyDelete
  8. Mashaa Allah teh ra, pasti ortu teh ra di surga bangga sama teh ra. Semoga perjalanan hidup teh ra dan keluarga selalu bahagia dan berkah aamiin

    ReplyDelete
  9. Roda kehidupan memang tak selalu mulus dan lancar, ya, Ra? Sama halnya ketika kita sedang menempuh suatu perjalanan. Kita akan bertemu dengan jalanan yang penuh bebatuan namun kemudian jalanan mulus pun membentang. Silih berganti, yang tentunya menjadi pembelajaran dalam memperkuat kita dalam menghadapi berbagai badai di kehidupan ini.

    Proud of you, strong young lady! Semoga perjalanan ke depannya semakin tangguh dan lancar jaya, di bawah lindungan Ilahi Rabbi, ya, dear! Aamiin. Ah iya, LDR juga punya daya tarik tersendiri, loh! Challenge yourself to make it enjoyable, dan be happy! :)

    ReplyDelete
  10. Aaahh aku nangis bacanya ya Allah huhu. Meskipun aku punya ortu tapi mereka juga divorce pas aku SMA dan sekrang kita sama-sama tinggal dibeda-beda kota. Tapi setelah baca ini, aku pikir aku doang yang suka bilang kenapa sih ya Allah ngasih kayak begini banget sama aku. Ternyata ujian aku ini gak ada apa2 kalo dibandingin ketegaran kamu ngelaluin roda kehidupan ini. InsyaAllah semua indah yah say. InsyaAllah meskipun kita sekarang gak bisa kumpul sama ortu didunia tapi yakin disurga pasti bisa yah aamiin

    ReplyDelete

Auto Post Signature