Top Social

Jantung Wanitanya

Friday, July 22, 2016
Kupikir setiap orang pernah patah hati. Aku benci patah hati, tapi aku lebih benci mendengar kata-kata seolah jujur namun bola mata berkata yang sebenar-benarnya. Aku baru mengerti mengapa segelintir orang berkata tentang cinta. Mereka berkata cinta adalah gerbang dimana kamu memperbolehkan orang lain menyayangi sekaligus menyakitimu. Jika memang ini cara-Mu menjawab doaku untuk menjadi orang sabar, aku bersyukur. Jika memang ini cara-Mu membuatku lebih kuat, aku terima. Tapi, pertama kali yang terlintas di pikiranku adalah ini karena aku mengharap kepada selain Kau. Maafkan aku mencintai makhluk-Mu, makhluk yang entah menyebut namaku selepas sujudnya atau tidak. 

Kepada-Mu Sang Maha Pembolak-balik hati, jangan buat aku patah hati berkali-kali, perlu waktu lama untuk menyusun kepingan ini menjadi utuh kembali. Setelah aku memilih itu berarti aku sudah mengambil langkah besar. Namun, ternyata aku belum siap untuk langkah sebesar itu, entahlah aku tidak sekuat biasanya. Kupikir, menghadapi dunia ini tidak melulu mesti sendiri, maka dari itu aku memilihnya. Tapi, baru aku menyadari satu hal bahwa sampai kapanpun dan dimanapun aku tetap sendiri, menguatkan diriku sendiri dan berpijak sendiri. Aku yang kemarin terlalu takut disakiti, tapi aku yang hari ini adalah aku yang mengusap air mata dari ketakutanku dan tidak benar-benar mempercayai seseorang sepenuhnya lagi, karena setelah aku percaya sepenuhnya, aku harus patah hati kembali.

Semoga aku ditakdirkan bersama dia yang melabuhkan cintanya kepada-Mu, semoga aku ditakdirkan bersama dia yang memegang erat dengan utuh perasaan wanitanya. Semoga dia tau, kedamaian hidup ini adalah di jantung wanitanya. Dunia ini ikut redup jika wanitanya berkabung, dan dunia ini ikut bertabur kasih jika wanitanya bahagia.




Rara Febtarina
Post Comment
Post a Comment

Auto Post Signature